Merdeka.com - Pemerintah melalui
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengusulkan agar waktu
sekolah pada anak menjadi lima hari. Artinya, pada Sabtu dan Minggu maka
pelajar diliburkan dari kegiatan belajar mengajar.
Mendikbud Muhadjir Effendy
mengungkapkan, ada sejumlah dampak positif apabila kebijakan ini diterapkan
dalam sistem pendidikan di Tanah Air. "Pertama kontrol pada anak lebih
terjamin, khususnya perkotaan," ujarnya.
Tak hanya itu, dengan diliburkannya
hari Sabtu dan Minggu, maka dengan waktu belajar lima hari di sekolah ke depan
memungkinkan waktu belajar untuk penguatan pendidikan karakter. "(Juga)
Penguatan implementasi manajemen berbasis sekolah (MBS)," terangnya.
Lanjut Muhadjir, program sekolah lima
hari juga menguatkan pada anak dalam penyaluran minat dan bakat. Belum lagi
bisa memenuhi beban mengajar minimal.
"Ekuivalensi guru memiliki
keterampilan dalam konteks pengembangan karakter. Misalnya, menari. (Sekolah
lima hari) Peluang bagi orang tua dan masyarakat untuk berkontribusi dalam PPK
terutama dalam kegiatan ekstrakurikuler. Anak (bisa) berwirausaha,"
jelasnya.
Sejumlah negara, kata Muhadjir, juga
menerapkan lima hari sekolah, misalnya Amerika Serikat, Vietnam, Jepang dan
Swedia.
Muhadjir menambahkan, pemberlakuan
sekolah lima hari di luar negeri juga memberikan dampak positif mulai dari
capaian akademik ikatan sekolah dan konsep diri meningkat hingga meningkatkan
mutu pembelajaran dan pemerataan layanan pendidikan.
"Di Jepang, peningkatan prestasi
akademis, kompetensi personal dan sosial serta anak lebih aman karena terawasi.
Di Swedia, meningkatnya kemampuan literasi, kualitas kesehatan dan kebugaran,
serta mengembangkan kompetensi sosial anak."
"Untuk pengalaman daerah yang
menerapkan ada Kabupaten Purworejo, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten
Purwakarta, Kabupaten Klaten, Kabupaten Semarang dan Kabupaten
Payakumbuh," tuntasnya.

ConversionConversion EmoticonEmoticon